G-Spot Tuhan // Agama Yakrislam

Tulisan di bawah ini adalah milik Muhammad Amin. dia menulisnya ketika masih tinggal di Amsterdam (2006)

Amin adalah penulis Indonesia yg sangat berani mengobrak-abrik pemikiran tentang Tuhan. nyalinya membuat saya kagum. jika saya hanya berani menjadi bunglon, dia tidak. dia mengaum sekeras-kerasnya mengutarakan ketidaksetujuan dia atas berbagai ‘tirani’ agama

semua tulisan-tulisan tersebut akhirnya dikumpulkan dan digabung menjadi sebuah buku. bukunya yg pertama berjudul “Ziarah ke Makam Tuhan”

buku yg kedua berjudul “Agama Yakrislam” (Yahudi – Kristen – Islam). ‘G-Spot Tuhan’ adalah bagian dari buku yg kedua. selamat membaca!

168 Media

RRrrrrhhtttttttttt, rrrhhtttttttttttttttttt,rrrhhttttttttttttt
HP-ku bergetar², tanda aku dapat SMS. Segera kubuka…..

——————————————–
Hey, aku gak sengaja baca tulisanmu, aku gak nyangka aja ada yg nulis
seberani itu. Tapi aku suka tulisanmu. Kamu mau gak ngedate ntar malem?
kutunggu di café De Hemel at 7 pm sharp.
xxx
Tuhan
———————————————

Lho, serius nih? Tuhan selama ini kupanggil Bapa koq, minta ngedate sama aku. Sial banget, dia kagak tahu apa kalau aku straight?

Jangan² Tuhan gay, bajigur, cilaka nian nasib awak kalau begini. Sudah awak mati²an meniduri banyak gadis demi membuktikan keperkasaan, Tuhan datang tiba² minta ngedate, atau dia berubah pikiran membolehkan cinta sesama jenis sekarang

Aku jadi bingung, semakin bingung, darimana pula dia mendapatkan nomer HP-ku. Ah,aku lupa, dia kan Khalik, jadi dia pasti punya data base lengkap seluruh makhluk. Karena aku libur kuliah, aku belanja dulu dan kemudian mengerjakan tugas² kuliah

Setelah semua itu aku kecapekan dan tertidur. Sebelum matahari terbenam, aku sudah bersiap². Jam setengah tujuh aku keluar, lebih baik awal daripada terlambat pikirku

Aku duduk dulu di pojokan café itu, menunggu jam 7. Aku sudah bersungut² sebenarnya, sial banget nasibku. Diajak date sama Tuhan.

Jam 7 tepat, belum kulihat tanda² kedatangan Tuhan. Tiba² ada sosok cantik masuk dan melihat kanan kiri, setelah melihatku dia dengan percaya diri berjalan ke arahku dan kemudian duduk di depanku

‘ Halo, aku Tuhan. Apa kabarmu?’

Ajigile, cakep banget Tuhan. Bodinya aduhai, asoy geboy. Matanya coklat indah, rambutnya panjang hitam sedikit berombak

Senyum dari bibirnya bikin jantung melayang, menggemaskan. Lehernya jenjang, putih bersih. Ah sial, ngeres aja udah pikiranku. Rasa²nya ukuran 34B. Nah kan sudah langsung itu yang kepikiran

‘ Halo, you know me already. Aku baik². Kamu gimana nona cantik..?’

‘ Baik, tapi capek. Banyak sekali yang harus kerjakan akhir² ini. Keluhan, permintaan, protes, somasi, ucapan terima kasih, persembahan, semua bertumpuk di kantorku. Kamu tidak apa² kan menemaniku malam ini.’

‘Pleasure is mine, no problem at all’

‘ Tahu gak, aku suka kamu karena keberanianmu. Keberanian argumen disertai kejernihan yang sangat jarang dimiliki oleh pemuda² jaman sekarang.’

Sialan, hatiku dibuat berdetak² keras mendengar pujian Tuhan. Biasanya sih yang ada pada protes atau menghujat tulisanku, eh malah Tuhan yang sering aku sindir malah suka dengan tulisanku

‘Ehhmm, kalau mau jujur aku bukan apa² Tuhan. Tulisanku hanyalah kesadaran seorang monyet yang sangat bodoh yang mencoba berjujur diri. Semakin aku banyak menulis, membaca, merasakan, melihat, mendengar, semakin terasa kebodohanku. Jadi please jangan memujiku seperti itu. Look at you, Engkau yang cantik tiada tara, pandai tiada bandingan. What am I compare to you…?’

‘Ah kamu lucu kalau ngomong serius gitu’

Tuhan tersenyum manja sambil mencubit pinggangku, akunya yang jadi salah tingkah. Sebenarnya aku selalu memberanikan menatap mukanya, terutama matanya yang indah itu

Tapi kadang aku tak sanggup, malah yang ada aku melihat agak kebawah dan gak sengaja melihat sedikit² belahan dadanya yang memang agak kelihatan. Pikiranku mengembara kemana²

‘Hey, koq bengong. Kamu mau minum apa…?’

‘Eh, hmm, aku yg traktir deh. Kamu mau minum apa..?’

‘Cappuccino boleh gak, makasih ya.’

Aku segera beranjak pergi ke bar untuk memesan cappuccino untuk Tuhan,
dan hot chocolate plus cream untukku sendiri

‘ Mas, kamu membenciku ya, suka sekali kau menyindirku dalam tulisanmu’

Lho, pertanyaannya langsung menohok begini

‘Tiada guna aku membencimu Tuhan, toh kau tetap Tuhan. Membebaskan pemikiran manusia, itu lebih penting. Tapi, sebelum membebaskan pemikiran manusia, Tuhan yang perlu dibebaskan dulu dari penjara manusia.’

‘ Menurut Mas, aku harus bagaimana..?’

‘ Menurutmu sendiri bagaimana…?’

‘Mas, aku imanen sekaligus transenden, kalau kau rasa aku dekat, aku akan dekat, tapi kalau kau rasa jauh aku akan jauh.’

‘ Tuhan, dengan segala hormatku, imanen ataupun transenden, substansi dekat ataupun jauh, itu hanyalah subjektif belaka. Semua hanya berdasar asumsi. Aku tidak bisa menerima itu, paling jauh jika manusia masih harus mempercayaimu dengan rasio, ya bahwa Tuhan adalah Hukum Alam, seperti apa yg dipercaya Spinoza, Bruno dan Einstein. Sederhana sekali Tuhanku yang cantik, tidak ada bukti sama sekali ada campur tanganmu dalam semua kejadian di alam ini.’

‘ Tapi ke-pantheis-an Spinoza dan kawan² itu tidak bisa untuk semua orang sayang, mayoritas manusia masih membutuhkan kehadiranku secara personal. Aku tahu bahwa Tuhan personal tidak bisa fit dalam kompleksitas makro maupun mikrokosmos, tidak mampu menyentuh relativitas ataupun kuantum mekanik, tapi kau harus ingat saudara²mu yang masih tertinggal. Tanpa Tuhan yang dekat, mereka akan dengan gampang lepas dari rel² kebaikan. Tanpa harapan dan ancaman, mereka akan dengan gampang masuk dalam perangkap kejahatan.’

Eh, tidak salah dengar aku tadi, dia memanggilku sayang. Asyiikk, wah pucuk dicinta ulam tiba.

‘ Tapi begini Tuhan yang penuh keindahan, etika tidak harus dari Tuhan, etika tidak niscaya butuh sandaran vertikal. Etika harus membumi, dan itu bisa didapat dari pendidikan, simpati, dan hubungan sosial.’

‘ Aku setuju denganmu, tapi kau harus realistis sayang. Duniamu dihuni oleh 80% lebih orang yang beragama, kalau kau menginginkan perubahan, jangan kau tinggalkan mereka. Layaknya menyeberang sungai dengan perahu, kau sudah sampai di seberang. Tapi perahu jangan kau buang, mereka masih butuh perahu itu. Hanya yang pasti, perbaikilah perahu itu, yang bocor² ditambal, sehingga mereka sampai juga di seberang. Aku juga tahu, dengan perahu konservatisme yang ada sekarang, mereka tidak akan pernah mencapai seberang, tapi sekali lagi jangan buang perahu, tapi perbaikilah. Secara ekonomi, cost-nya terlalu tinggi dibanding benefit yg diperoleh dengan membuang perahu itu dan menggantinya dengan yang lain ’

Sebenarnya, aku gak begitu konsentrasi ngomong sama Tuhan, kecantikan dan kemanjaannya sungguh di luar dugaanku. Ah, kenapa tidak kuajak nonton film saja

‘Eh, aku ada film bagus. Sepanjang film yang bermain hanya dua orang. Nonton film yuk.’

‘Boleh, dimana…?’

‘Di kamarku, deket koq dari café ini.’

Aku segera mengambil jaket kulitnya dan kubantu dia untuk memakainya. Horeee, perangkapku manjur. Sesampai di kamar, Tuhan kelihatan senang. Dia senyum-senyum

‘Kenapa kau senyum²..?’

‘Tumben, ada cowok kamarnya bersih’

Aku jadi ikut tersenyum²

‘Kamarku bukannya bersih, tapi memang gak ada barang² berharga. Seperti kau lihat, aku hanya punya laptop, gitar, keyboard, dan sedikit pakaian. Hippies miskin, biasalah hahhaa….’

Aku segera nyalakan laptopku, dan segera kuambil chips dan kitapun nonton ‘Before Sunrise’, film yang penuh dialog dewasa kalau aku bilang

Hampir akhir film ada adegan² romantis, aku coba belai² rambut Tuhan, dia diam saja. Kucoba cium pipinya, dia hanya senyum. Selanjutnya yang diinginkan terjadi, terjadilah

Tapi setelah sekian lama bercumbu, busyet dah, belum juga orgasme Tuhan ini. Cunnilingus sudah, Fellatio sudah. Foreplay cukup lama. Sudah kucoba semua gaya, doggy style, 69, misionaris, crabwalk, butterflies, sampai TSquare dan Gaya Kapak tetep aja belum orgasme. Sementara aku udah capek banget, sudah ngilu disana sini

‘ Mas kuat deh, belajar tantra ya Mas. Ayo dong main lagi, belum puas nih.’

‘Heh, enak kamu tinggal nerima beres. Aku belum makan nih dari tadi pagi, paling cuman snack waktu di toko tadi. Tantra sih tantra, tapi kalau kagak isi bensin, koit juga aku.’

Kupikir untung juga aku belajar tantra, bisa on-off saklar dengan presisi. Kalau tidak sudah tepar dari tadi. Tapi gairah Tuhan ini gak ketulungan, ngos²an aku dibuatny.

Sudah hampir tiga jam kita bergumul, tapi masih belum ada tanda² dia akan terpuaskan. Dan 4 jam adalah titik kulminasiku, titik 6 jam seperti di tantra yang ideal masih belum pernah kualami

Biasanya karena si cewek sudah koit duluan. Kuberpikir keras untuk menemukan titik sensitifnya. Setelah beberapa lama, aha, akhirnya kutemukan pula G-Spot Tuhan

Menggelinjanglah dia kalau kusentuh itu G-Spot, merem melek, goyang kanan, goyang kiri. Dan akhirnya diapun terengah² menemui puncaknya

Waktu sudah menunjukkan 10.30 malam, kuantar dia pulang. Kulihat dia tersenyum² terus. Di halte kita berciuman di tengah dinginnya malam

Sejak malam itu aku pacaran sama Tuhan. Tapi sebagaimana sudah aku duga sebelumnya, pacaran ama Tuhan itu makan hati

Tuhan sangat pencemburu dan posesif, mendua jelas² gak boleh, bisa digampar abis aku. Selain itu Tuhan juga diktator, ngatur sana, ngatur sini, kalau kagak diturutin ngambek

Dalam hal komunikasi juga begitu, dia bisa seenak jidat menghubungiku kapanpun, tapi aku tidak bisa setiap saat menghubunginya, apalagi kalau rush hour. Tapi aku tetap sayang sama Tuhan. Aku mencintainya

*Based on 50% true story

agama yakrislam
Download PDF Agama Yakrislam disini

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Baca Juga: 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: